Tampilkan postingan dengan label bantaeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bantaeng. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Agustus 2014

Yapensa siap melaksanakan Workshop Pengembangan Kopi Specialty Di Kawasan Bawakaraeng

Bantaeng,nbcradio 20/8/2014 - Pelaksanaan Workshop Pengembangan Kopi Specialty Di Kawasan Bawakaraeng oleh Yapensa bekerja sama dengan Pemkab Bantaeng dengan dukungan Ford Foundation yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi (26-27 agustus 2014) di Kabupaten Bantaeng terlihat sudah pada tahap siap untuk dilaksanakan dan disukseskan, hal ini juga terlihat dari pemasangan baliho di jantung kota Bantaeng yang menampilkan figur Bupati Bantaeng sebagai bukti Pemda sangat mendukung workshop tersebut.

Ikhsan S.Pi, M.Si selaku sekretaris Panpel mengatakan "kami sudah siap mensukseskan workshop kali ini, untuk para peserta terutama dari seluruh kelompok tani binaan Yapensa telah kami terima konfirmasi kehadirannya". Hal ini ditambahkan Supardi selaku Field Fasilitator wilayah Bantaeng-Bulukumba bahwa antusias Kelompok Tani binaan sangatlah besar, dimana tiap kelompok yang hanya diperbolehkan menghadirkan 3 orang malah ada yang meminta agar kelompoknya menghadirkan lebih dari 3 orang.

Ketua Panitia pelaksana yakni Bapak Awalauddin, SP pada saat kami temui di kantor Yapensa, menjelaskan tujuan dari workshop tersebut sebagai kegiatan memfasilitasi pertemuan multipihak dalam rangka sosialisasi dan menyatukan sumber daya guna mendukung pengembangan kopi Bawakaraeng yang meliputi Kopi Gowa, Sinjai, Bantaeng, Bulukumba serta Jeneponto secara berkelanjutan, utamanya untuk memfasilitasi masyarakat mendapatkan hak paten Indikasi Geografis (GI) Kopi Bawakaraeng.

Beliau menambahkan bahwa workshop tersebut rencananya akan dibuka oleh Gubernur Sulawesi Selatan, dan dihadiri oleh Bupati Bantaeng, Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Ketua Tim Ahli Indikasi Geografis Kementerian Hukum dan HAM RI, Ketua AEKI Indonesia, Ketua Masyarakat Perlindungan Kopi Gayoh Aceh, dan dari pihak Bank Indonesia. (Prdi)


Tag : yapensa.or.id , coffindo.com, www.fordfoundation.org/ ,  www.nbcradiobantaeng.co.nr, www.bantaengkab.go.id, www.fajar.co.id, www.facebook.com, www.google.com,, radarbulukumba, panrita lopi, radio cempaka asri, gamasifm.com, pramborsfm.com, suarakomunitas.net, tribun timur, website,


Selengkapnya(Read More)..

Selasa, 17 Juni 2014

Kelompok Tani Kopi serah terima Pulper oleh Koperasi Agro Mandiri

Bantaeng (suarakomunitas.net, NbcFm) 15/6/2014 - Kelompok Tani (Poktan) Kopi yakni Poktan Baji Ati II dan poktan Pucuk Mekar yang menerima bantuan mesin Pulper (penggiling gelondongan menjadi kopi gabah) dari Koperasi Agro Mandiri tersebut merupakan kelompok tani binaan Yapensa dalam project Bawakaraeng Coffee yang di support oleh Ford Foundation.

Penyerahan bantuan mesin pulper tersebut merupakan bentuk perhatian pihak Koperasi terhadap kelompok tani yang telah bekerja sama dalam program pemasaran model kemitraan bermediasi. Model ini yang juga disebut dengan model "Motramed" merupakan salah satu yang terdapat pada program pemasaran dalam project Bawakaraeng Coffee oleh Yapensa bekerja sama dengan ford Foundation. model pemasaran kopi Arabika ini mencakup kemitraan antara Petani dengan Koperasi dan Eksportir dimana Yapensa sebagai mediatornya.

Ke dua Kelompok Tani tersebut terletak di Kecamatan Tompobulu, Kabupten Bantaeng. Serah terima bantuan mesin pulper dimulai pada Sekretariat kelompok Tani "Baji Ati 2" di Dusun Panjang Utara, Desa Labbo dan kemudian dilanjutkan ke sekretariat Poktan "Pucuk Mekar" di dusun Katabung, Desa Pattaneteang yang di saksikan langsung oleh Kepala Desanya yakni Bapak Muhammad Arsyad.

Pak Musakkir selaku Ketua Poktan Baji Ati 2 mengungkapkan rasa bersyukurnya karena merupakan satu-satunya kelompok tani di Desa Labbo yang di proritaskan mendapatkan bantuan tersebut. hal senada juga di sampaikan oleh Bapak Guru Nahing (Ketua Poktan Pucuk Mekar Pattaneteang).

Ke dua kelompok tani Binaan Yapensa ini mendapatkan bantuan mesin pulper bukan karena hasil godokan, akan tetapi pemilihan Poktan yang berhak mendapatkan bantuan dari Koperasi Agro Mandiri ini didasari penilaian bahwa ke dua kelompok ini merupakan kelompok yang memiliki tingkat keaktifan dalam project bawakaraeng Coffee, selain itu memiliki kekompakan dibanding dengan kelompok lainnya dan juga memiliki kemampuan berkoperasi yang cukup diacungi jempol, ungkap Deputy Project Leader/Ketua Yapensa yakni Bapak Hermansyah Gafur. (Prd)

Tag : yapensa.or.id , coffindo.com, www.fordfoundation.org/ ,  www.nbcradiobantaeng.co.nr

Selengkapnya(Read More)..

Selasa, 13 November 2012

Yukk... Meriahkan Hari Jadi Bantaeng Tahun ini (2012)

Hari jadi Bantaeng tidak lama lagi 7 Desember 2012 yang ke 758 (sejak 7 Desember 1254 : Source Wikipedia). Yuk kita berpegang teguh menjadikan hari jadi Bantaeng-ta' yang ke 758 lebih meriah dari tahun-tahun lalu, lebih aman, damai, lebih wow gitu hehehe !!

Untuk itu, mari kita sukseskan kemeriahannya dengan merencanakan konsep masing-masing organisasi/kelompok/komunitas/club dalam memeriahkan Hari Jadi Bantaeng-ta'. 

Kami selaku Radio komunitas anak muda Bantaeng, mengajak dan menghimbau komunitas kami agar senantiasa tetap inovatif dan kreatif sehingga anak muda Bantaeng patut di banggakan sebagai anak muda Bantaeng bahkan patut dibanggakan sebagai anak muda Bangsa Indonesia !!

Oleh karena itu, ayo kita sama-sama merencanakan konsep keikut sertaan komunitas masing-masing (anak band, club motor, club mobil, dll) dalam rangka ikut serta memeriahkan Hari Jadi bantaeng-ta'. Semoga anak muda Bantaeng berperan aktif inovatif dan kreatif di hari jadi Bantaeng.

Anak Mudana Bantaeng Anak muda yang penuh inovatif dan kreatif, Bantaeng-ta' tetap Berkarya !!

APA MAAAAMO !!
Selengkapnya(Read More)..

Jumat, 09 November 2012

Aksara Lontara Budaya Sulawesi Selatan


Barbara F. Grimes (dalam Purwo, 2000) mencatat sebanyak 706 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Marauke. Di antara 100-an bahasa di Indonesia itu, hampir separuhnya terdapat di Irian Jaya, yaitu sebanyak 248.

Tidak semua bahasa daerah yang tersebar di nusantara ini memiliki aksara untuk merekam nilai-nilai budaya yang ada dalam masyarakat pemilik bahasa itu. Bahasa daerah yang memiliki aksara adalah bahasa Jawa, Bali, Sunda, Makassar (Bugis), Batak, dan Rencong.

Salah satu bahasa daerah yang cukup beruntung adalah bahasa Makassar (Bugis). Dikatakan cukup beruntung karena bahasa daerah ini memiliki aksara yang dapat merekam atau mencatat nilai-nilai luhur (indigeneous knowledge) yang disebut pasang 'pesan-pesan'; panngadakkang (Makassar) atau panngaderreng (Bugis) "adat istiadat".

Hasil catatan atau manuskrip tersebut disebut lontarak. Aksara Makassar (Bugis) digunakan mencatat manuskrip-manuskrip dikenal dengan sebutan aksara lontarak. Selain itu, dijumpai pula manuskrip yang ditulis dalam aksara yang dikenal dengan aksara serang.

Aksara lontarak merupakan lambang identitas daerah dan alat transformasi nilai-niiai luhur yang sangat berharga (indigenous knowledge). Aksara lontarak adalah salah satu aset kekayaan budaya yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata budaya daerah. Selain itu, dapat menjadi aset dan sumber pengembangan budaya nasional.

Selanjutnya, sebagai aset kekayaan budaya, tentu saja, perlu diketahui mengapa dinamai aksara lontarak; dari mana asal usulnya; dan niiai budaya yang terkandung di dalam lontarak tersebut. Untuk itu, makalah ini berusaha mengungkapkan hal tersebut seperti dalam uraian berikut.

Pembahasan

1. Mengapa Dinamai Aksara Lontarak?

Dari hasil kajian pustaka diperoleh informasi bahwa naskah kuno Makassar (Bugis) ada yang ditulis dengan aksara lontarak dan ada yang ditulis dengan aksara serang. Dinamai aksara lontarak karena memang dulu peristiwa-peristiwa ditulis pada daun lontar. Frasa daun lontar sepadan dengan raung = daun dan talak = lontar menjadi rauttalak atau rontalak dalam bahasa Makassar (dari bahasa Jawa atau bahasa Melayu). Kata rontalak mengalami proses metatesis menjadi lontarak (Basang, 1972: 10; Abidin, 1983: 109; Pelras, 2006: 232), Dalam bahasa Makassar sehari-hari dikenal dengan sebutan lekok talak.

Selanjutnya, disebut pula sebagai aksara serang (huruf Arab) karena kesusasteraan Makassar (Bugis) ditulis dalam aksara Arab sebagai pengaruh dari agama Islam dan kesusasteraan Islam yang datang ke Sulawesi Selatan pada permulaan abad ke-17 (Mattulada, 1991b: 69). Beliau menduga kata serang itu berasal dan kata Seram (Palau Seram). Dahulu orang Makassar (Bugis) selalu berhubungan dengan orang Seram yang Iebih dulu rnenerima agama Islam.

2. Arti Lontarak

Dalam perkembangan selanjutnya, kata lontarak dapat mengandung arti bermacam-macam sesuai dengan konteks kalimatnya. Manyambeang (1996: 32) merincinya sebagai berikut.

a. Lontarak dapat berarti aksara, seperti dalam kalimat:
Appilajaraki lontarak.
belajar dia lontarak
(dia belajar huruf lontarak)

b. Lontarak dapat berarti naskah, seperti dalam kalimat;
Ciniki ri lontaraka.
'Lihat isi di lontarak' (lihatlah di lontarak)

c. Lontarak dapat berarti buku bacaan, seperti dalam kalimat,
laminne lontarakna I Kukang.
'inilah buku bacaan i Kukang'
(inilah buku bacaan (yang berjudul) i Kukang).

d. Lontarak dapat berarti catatan, seperti dalam kalimat:
Boyai ri lontarak bilanga.
`carilah pada lontarak bilang' (Carilah pada catatan harian)

3. Asal Usul Aksara Lontarak Makassar

Dari hasil penelusuran pustaka yang tersedia dijumpai beberapa pendapat tentang perkembangan aksara Makassar (Bugis). Pendapat-pendapat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Pendapat H. Kern.

H. Kern (1882) berpendapat bahwa aksara Makassar (Bugis) bersumber dan huruf Sanskrit yang disebut Dewanagari. Aksara Dewanagari dapat dilihat sebagai berikut .



b. Dalam Kamus Linguistik susunan Kridalaksana (1982: xx) ditunjukkan silsilah aksara yang penting, seperti berikut.


Menggambarkan Aksara Palawa sebagai berikut :


c. Pendapat Matthes dan Raffles.

Holle (1882) mengutip bentuk aksara yang dikemukakan oleh Matthes dan' Raffles, sebagai berikut :

1. Bentuk yang dikemukakan Matthes :

2. Bentuk yang dikemukakan Raffles :


Bentuk aksara yang dikemukakan, baik Matthes maupun Raffles biasa juga disebut lontarak kuno atau het oude Makassaarche letterschrift (Mangemba dan Tenribali (Ed.), 1966: 49). Bentuk lontarak kuno dan lontarak baru dapat dikatakan jauh berbeda sehingga perlu dipertanyakan apakah lontarak kuno yang mengalami proses perubahan menjadi lontarak yang digunakan sekarang.

d. Pendapat Ahli Kebudayaan Bugis Makassar dari Sulawesi Selatan.

Mattulada (dalam Manyambeang, 1996: 29) merasa yakin bahwa aksara Bugis Makassar berasal dan aksara Dewanagari yang diperbaharui oleh Daeng Pamatte (syahbandar kerajaan Gowa). Sejalan dengan pendapat itu, Basang (1972: 11) mengemukakan beberapa persamaan aksara Dewanegari dengan aksara Makassar, yaitu keduanya huruf silabis; keduanya menggunakan alat bantu untuk menyatakan bunyi /i, e, o, dan u/; keduanya ditulis dari kiri ke kanan. Adapun Yatim (1983: 5) memperhatikan susunan abjadnya. Dia mengakui bahwa pengaturan abjad lontarak telah sampai kepada kesadaran linguistik yang amat maju dan amat mirip dengan pengaturan abjad Sanskerta, yang membedakan hanya bentuknya.

Selanjutnya, Mattulada (1991a: 68-9) menjelaskan bahwa terdapat anggapan di kalangan orang Makassar (Bugis) berkaitan dengan penciptaan tanda-tanda bunyi yang kemudian disebut aksara lontarak dilatarbelakangi oleh suatu kepercayaan yang berpangkal pada mitologis orang Makassar (Bugis) yang memandang alam semesta ini sebagai bolasuji (Bugis) atau "sulapak appak" (Makassar) yang berarti `segi empat belah ketupat'. Sarwa alam ini merupakan satu kesatuan yang dinyatakan dalam simbol S = sa yang berarti seua (tunggal atau esa). Demikian pula segala tanda bunyi dalam aksara lontarak bersumber dari s = sa (Museum Nasional, 10/MP/NAS/76: 21; Mattulada, 1991: 4-85).

Simbol “s” ini menyimbolkan mikrokosmos sulapa eppana taue "segi empat tubuh manusia'. Bagian puncak terletak kepala, tangan kiri, tangan kanan; dan bagian ujung bawah adalah kaki. Simbol S itu merupakan pengejawantahan pada bagian kepala yang disebut sawwang (SW) berarti mulut. Dari mulutlah segala sesuatu dinyatakan yang disebut sadda (sd) berarti bunyi. Bunyi-bunyi itu disusun sehingga bermakna yang disebut ada (ad) berarti kata, sabda atau titah.

Segala sesuatu yang meliputi keseluruhan tertib kosmos/sarwa alam diatur melalui ada (ad). Dengan penambahan artikel definit E menjadi ada'e (adea) yang menjadi pangkal kata adek (adEE). Adek adalah sabda (penertib) yang meliputi sarwa alam (5) sehingga disebut dalam kata-kata hikmat pasang sebagai berikut.

sd mpbti adE adE mpbti gau gau mpbti tau
sadda mappabbatik ada ada mappabbatik gauk
gauk mappabbatik tau

Artinya:

Bunyi mewujudkan kata
Kata mewujudkan perbuatan
Pperbuatan mewujudkan manusia

Konsep sulapak appak inilah dapat dibentuk aksara lontarak yang biasa disebut urupu sulapak appak seperti berikut.


Pendapat lain yang bersumber dari Lontarak Patturioloanga ri Tugowaya, seperti yang disinyalir (Manyambaeng, 1996; Basang, 1972) yang berbunyi sebagai berikut.

aiyp aen krea auru aperki rp bicr timu timu ri buduk.
sbnrn mien kreaG nikn dea pmet. aiy sbnr, ay tumaill, aiytomi dea pmet aperki Iotr mksr.
...iapa anne karaeng uru apparek rapang bicara, timu-timu ri bunduka. sabannarakna minne karaenga nikana Daeng Pamatte. la sabannarak, la Tumailalang, iatommi Daeng Pamatte ampareki lontarak Mangkasarak.

(.. dialah raja yang mula-mula membuat peraturan, hukum dalam perang. Syahbandar raja inilah yang disebut Daeng Pamatte. Dia syahbandar, dia juga Tumailalang, dia jugalah Daeng Pamatte yang membuat lontarak Makassar)
.
Dalam lontarak di atas terdapat kata ampareki yang dapat berarti `membuat atau menciptakan', `menjadikan atau menyederhanakan'. Jadi, apabila kata ampareki diartikan menciptakan/membuat, dapatlah diartikan membuat sesuatu dari yang belum ada menjadi ada. Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa aksara Makassar baru itu diciptakan oleh Daeng Pamatte yang diilhami oleh pandangan hidup orang Makassar (Bugis) sendiri, yaitu sulapak appak.

Sebaliknya, jika kata ampareki diartikan `menyederhanakan atau memodifikasi', dapat diasumsikan bahwa Daeng Pamatte menyederhanakan atau memodifikasi dari bentuk aksara yang sudah ada sebelumnya (aksara Sanskrit/Dewanagari, huruf Pallawa, dan bentuk aksara yang dikemukakan Matthes atau Raffles) menjadi aksara lontarak baru yang ada sekarang.

Sejalan dengan penjelasan di atas, Pelras (2006: 230) dan H. Kern (dalam Manyambeang 1996: 3) beranggapan bahwa lontarak di Sulawesi Selatan ada persamaan dengan aksara yang ada di Sumatera, seperti aksara Lampung, Rejang, Batak, dan Pasemah. Berdasarkan informasi ini dapat diasumsikan bahwa ada kemungkinan aksara Makassar baru merupakan hasil penyederhanaan atau modifikasi dari aksara tersebut yang dilakukan oleh Daeng Pamatte. Bila dilihat sepintas lalu, aksara Batak, aksara Makassar, dan aksara rencong hampir serupa. Bahkan kadang-kadang agak sulit dibedakan ketiga bentuk aksara tersebut.

Di dalam buku Sejarah Melayu disebutkan tentang peperangan raja Mangkasara yang bernama Samarluki (Saman Rukka) ke Malaka dan daerah jajahannya, termasuk Batak. Peristiwa ini diceriterakan berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Mansur Shah sekitar tahun 1440. Walaupun ia dapat dipukul mundur oleh tentara Melayu, ia berhasil membawa harta rampasan, baik berupa barang maupun tawanan perang (Brown dalam Reid, 2004: 147; Museum nasional, 10/MP/NAS/76: 24).

Tidak tertutup kemungkinan di antara para tawanan itu terdapat orang-orang Batak yang terampil menulis dan membaca tulisan Batak. Dari merekalah orang Makassar belajar tulisan Batak tersebut. Selanjutnya, mereka meniru atau menyederhanakan huruf Batak itu sehingga berwujud tulisan Makassar sekarang.

e. Nilai Budaya dalam Lontarak: Perspektif Antropolinguistik

Sistem nilai atau nilai-nilai dalam masyarakat merupakan suatu konsep abstrak mengenai apa yang buruk dan apa yang balk. Pepper (dalam Djajasudarma 1997: 12) menjelaskan bahwa batasan nilai mengacu pada minat, kesukaan, pilihan, tugas, kewajiban, agama, kebutuhan, keamanan, hasrat, keengganan, atraksi, perasaan, dan orientasi seleksinya.

Oleh karena itu, segala sesuatu yang baik dan buruk dapat disebut sebagai nilai. Nilai budaya ini diasosiasikan secara turun-temurun dari generasi yang satu ke generasi yang lain. la dianggap sebagai pedoman manusia dalam bertingkah laku dalam sistem sosialnya. Jadi, sistem nilai dapat dikatakan sebagai norma standar dalam kehidupan bermasyarakat.

Djajasudarma. dkk. (1997: 13) mengemukakan bahwa sistem nilai begitu kuat, meresap, dan berakar di dalam jiwa masyarakat sehingga sulit diganti atau diubah dalam waktu singkat. Berkaitan dengan hal tersebut, Sumardjo (dalam Oktavianus 2006: 117) menyatakan sebagai berikut:

Filsafat orang Indonesia termasuk nilai budaya tersimpan di batik pepatah-petitih, di batik rumah-rumah adat, di batik upacara-upacara adat, di batik mitos-mitos tua, di balik ragam hias pakaian yang mereka kenakan, di batik tarian mereka, di balik musik yang mereka mainkan, di balik persenjataan, dan balik sistem pengaturan sosialnya.

Dari pernyataan di atas, bahasa melalui pepatah-petitih merupakan medium untuk menampilkan makna budaya yang di dalamnya terkandung nilai (value). Peribahasa merupakan bagian dari komunikasi sistem budaya (Dundes dan Arewa dalam Oktavianus, 2006: 117). Sepadan dengan pendapat itu, Duranti (1997: 25; Foley, 1997: 16) menjelaskan bahwa bahasa mengategorisasi realitas budaya.

Bahasa menampakkan sistem klasifikasi yang dapat digunakan untuk menelusuri praktek-praktek budaya dalam suatu masyarakat. Model-model budaya yang dimaksud di sini mencakup mentalitas kerja, sikap, perilaku, etika, dan moral. Berikut ini diberikan beberapa contoh pepatah atau kelong yang mengandung model budaya yang dimaksud.

• Motivasi Berusaha dan Bekerja

Untuk memenuhi kebutuhannya manusia diisyaratkan rajin berusaha. Kelong berikut mengandung makna yang mencerminkan motivasi berusaha sebagai salah satu praktek budaya dan paling tidak merupakan cerminan realitas sebagaimana dijelaskan Duranti di atas.

puun kutuai tauw punna kuttui taua
neta sulu soGon natea suluk songokna
tean todo taena todong
titi soGo Inty titti songok la natayang.

Terjemahan: Kalau orang malas
Tidak mau keluar keringatnya Tidak ada juga
Tetes keringat yang ditunggu.
Kelong di atas mencerminkan bahwa kalau orang malas bekerja, tentu saja, tidak ada hasil yang akan diperoleh. Kelong ini sepadan dengan ungkapan dalam bahasa Indonesia "Siapa yang menanam, dia akan menuai".

• Rasa Solidaritas

Solidaritas merupakan integrasi sosial yang didasarkan kepada interdependensi okupansional, persamaan-persamaan, dan bahkan juga pada perbedaan-perbedaan komplementer (Soekanto dalam Oktavinus, 2006: 119). Integrasi sosial dapat diartikan sebagai kesetiakawanan, kebersamaan, dan kekompakan dalam menghadapi suka duka.

meaki kismturu maekik kissamaturuk
kiemet bulo sibt kirnmenteng bulo sibatang
nmtumtu nakmatu.-matu
bett aGod del baieta anngondang dallek

Terjemahan: Mari kita bersama-sama Berdiri sebatang bamboo
Supaya berguna
Cara kita mencari rezki.

Kelong tersebut mencerminkan bahwa dalam mengerjakan suatu pekerjaan, sebaiknya kita mengadakan kerja sama dengan orang lain agar pekerjaan itu cepat selesai dan berhasil.

• Etika, Moral, dan Sopan Santun

Etika falsafah atau hukum membedakan hal yang baik dan yang buruk dalam kelakuan manusia, sedangkan moral adalah ukuran baik buruknya tingkah laku yang menyangkut pengontrolan diri, keyakinan diri, dan kedisiplinan tindakan (Dreyer dalam Oktavianus, 2006: 124). Adapun kesopanan yang terkandung dalam bahasa mencerminkan tingginya peradaban suatu bangsa atau tingginya martabat seseorang (Poedjosoedarmo, 2001: 186). Hal tersebut dapat dilihat dalam ungkapan berikut.

nikny sulp apn tauw aiymitu niy sirin niy pecn niy pGlin n niy
pGdkn nikanaya sulapak appakna tau, iamintu niak sirikna,
niak paccena.
niak panngalikna, na niak panngadakkanna.

Terjemahan: Yang disebut kesegiempatan manusia ialah manusia yang memiliki harga diri, memiliki rasa kesetiakawanan, menghargai orang lain, dan memiliki sifat sopan santun.

Dalam ungkapan di atas tercermin konsep sipakatau `sating menghargai', konsep sirik 'harga diri', konsep pacce 'kesetiakawanan', konsep panngalik 'perasaan hormat', dan konsep panngadakkang 'adat-istiadat/sopan santun'. Konsep sipakatau `sating rnenghargai' menjadi inti atau pangkal dalam interaksi sosial sesuai dengan nilai-nilai positif yang ada dalam budaya Makassar.

Konsep sink `harga diri adalah suasana hati dalam masyarakat, bukan semata-mata sebagai "pertahanan martabat diri" yang ditimbulkan secara emosional dari simultan nilai-nilai khusus. Konsep pacce `solidaritas' adalah iba hati melihat sesama warga yang mengalami penderitaan atau tekanan batin atas perbuatan orang lain atau sejenisnya.

Kedua konsep ini merupakan sikap moral yang menjaga stabilitas dan berdimensi harmonis agar tatanan sosial atau adat istiadat berjalan secara dinamis (Hamid, 2003: xii). Konsep panngalik 'perasaan hormat adalan rasa hormat kepada seseorang atau sesuatu yang dianggap bersih dalam arti luas.

Konsep panngadakkang 'adat-istiadat adalah himpunan kaidah-kaidah sosial dalam masyarakat yang bermaksud mengatur tata tertib masyarakat (Wahid, 1992: 89). Jika seseorang berhasrat akan melakukan sesuatu, segala rencana terpuiang pada adat.

Adatlah yang merupakan penentu patut tidaknya sesuatu yang akan dilakukan. Keputusan yang diputuskan sesuai dengan proses adat, maka semua pihak dapat menerimanya, sebagaimana terungkap dalam ungkapan "punna panngadakkang taena erokku, taena kulleku" `jika sudah menyakut ketentuan yang sudah diadatkan, tidak berlaku kemampuanku'.

Penutup

Lontarak merupakan lambang identitas daerah, mengandung nilai-nilai luhur yang sangat berharga. Lontarak merupakan salah satu aset kekayaan budaya daerah yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata budaya.

Berkaitan dengan asal usul lontarak Makassar terdapat beberapa pendapat yang berbeda. Oleh krena itu, disarankan perlu kajian yang lebih akurat sehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.

DAFTAR PUSTAKA

• Abidin. Zainal. 1983. Persepsi Orang Bugis, Makassar tentang Hukum. Negata dan Dunia luar. Bandung: Penerbit Alumni.
• Basang, Djirong. 1972. Fonemik Bahasa Makassar. Ujung Pandang: Lembaga Bahasa Nasional Cabang 111
• Djajasudarma T. Fatimah, dkk. 1997. Nilai Budaya dalam Ungkapan dan Peribahasa Sunda. Pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, Departemen Pendidikan dan kebudayaan.
• Duranti, Aessaridro. 1997. Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.
• Foley, Wilham A. 1997. Anthropology Linguistics: An Introduction. New York: Blackwell.
• Hamid, Abu. 2003. "Sid' Butuh Revitalisasi'. Dalam Mustafa. dkk.,.(Eu.) Sini dan Passe: Harga Did Orang Bugis. Makassar, Mandar dan Toraja. Makassar: Pustaka Refleks.
• Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamaus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
• Maknun, Tadjuddin, 1991. "Beberapa Catatan tentang Perkembangan Aksara Makassar". Makalah Disajikan pada Seminar Sehari dalam Rangka Dies Natalis ke-32 Fak. Sastra Unhas, 9-11-1991.
• 2007. "Menyempurnakan Aksara Lontarak untuk Memudahkan Pemahaman Kandungan Lontarak". Makalah Disajikan pada Kongres Internasional Bahasa-bahasa Daerah se-Sulawesi Selatan pada 22-25 Juli 2007 di Hotel Clarion Makassar.
• Manyambeang, Kadir. 1996. "Lontaraq Riwayaqna tuanta salamaka ri Gowa: Suatu Analisis Linguistik Filologis". Disertasi Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
• Mattulada. 1991a. "Manusia dan Kebudayaan Bugis-Makassar dan Kaili di Sulawesi. Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya Indonesia No. 43 Th. XV Januari-April 1991.
• 1991b. Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah. Ujung Pandang: Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin.
• Museum Nasional. 1976. "Mengenal Aneka Ragam Tulisan Daerah di Indonesia". Jakarta: Direktorat Museum, Ditjen Kebudayaan Depdikbud No. 10/MP/NAS/76.
• Oktavianus. 2006. "Nilai Budaya dalam ungkapan Minangkabau: Sebuah Kajian dari Perspektif Antropologi Linguistik". Jurnal Linguistik Indonesia Tahun ke-24, Nomor 1. Jakarta: MLI bekerja sama dengan Obor Indonesia.
• Pelras, Christian. 2006. Manusia Bugis. Jakarta: Nalar.
• Poedjosoedarmo, Soepomo. 2001. Filsafat Bahasa. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
• Reid, Anthony. 2004. Sejarah Modern Awal Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES.
• Wahid, Sugira. 1992. "Metafora Bahasa Makassar". Disertasi Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
• Yatim, Nurdin. 1983. "Subsistem Honorofik Bahasa Makassar: Sebuah Analisis Sosiolinguistik". Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,. Direktorat Pembinaan Penelitian, dan Pengembangan dalam Masyarakat.

Lebih lengkapnya dapat anda simak di : http://www.scribd.com/doc/33628335/Aksara-Lontara-Kebudayaan-Asli-Sulawesi-Selatan ..

Dibawakan oleh Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. (sumber http://www.wacananusantara.org/content/view/category/99/id/527)

Makalah ini disampaikan pada Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 pada tanggal 10-12 Desember di Bogor.

 http://www.gudangmateri.com
Selengkapnya(Read More)..

Kosa Kata Bahasa Makassar





(Gambar : Aksara Lontarak - Hurufuk Lontarak)

Ada yang tahu atau punya kamus bahasa Makassar? Saya termasuk orang yang tertarik akan bahasa Makassar (karena saya orang bugis, lohh??), namun sejauh ini belum pernah menemukan (memang tidak pernah serius mencari) kamus bahasa Makassar.

Bahasa Makasar atau Mangkasara' adalah bahasa yang dituturkan oleh suku Makassar, penduduk Sulawesi Selatan, Indonesia. Bahasa ini mempunyai abjadnya sendiri, yang disebut Lontara, namun sekarang banyak juga ditulis dengan menggunakan huruf Latin. Huruf Lontara berasal dari huruf Brahmi kuno dari India. Seperti banyak turunan dari huruf ini, masing-masing konsonan mengandung huruf hidup "a" yang tidak ditandai. Huruf-huruf hidup lainnya diberikan tanda baca di atas, di bawah, atau di sebelah kiri atau kanan dari setiap konsonan. (Wikipedia)

Menurut budayawan Prof Mattulada (alm) bentuk aksara lontara berasal dari "sulapa eppa wala suji". Wala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat.

Sebenarnya saya ingin posting mengenai sebuah lirik lagu Makassar, namun saya urungkan dulu karena tidak saya ketahui artinya. Berniat mencari artinya, saya googleing saja, namun kecewa dengan banyaknya situs kosong yang "mengatasnamakan" kamus bahasa Makassar di hasil googleing halaman pertama, ternyata situs tersebut hanya ingin populer namun tanpa usaha bahkan menipu. Untuk itu, sebagai warisan buat anak cucu kelak, saya posting tentang Kamus Bahasa Makassar ini. Semoga bisa saya update dimasa-masa mendatang.

Hampir seluruh kata saya copas dari hasil googleing dan blogwalking. Yang merasa dirugikan atas "aksi" saya, mohon maaf dan bisa protes dengan memberikan komentar yang baik di tempat yang tersedia dimanapun di blog ini. Yang ingin bertanya arti bahasa Makassar ke Indonesia atau sebaliknya, komentar saja disini atau kirim email langsung ke hit4mpek4t[at]gmail.com. Terima kasih bagi anda yang ingin menambahkan kosakata bahasa Makassar yang belum ada di blog ini.

Berikut beberapa kata yang sempat saya daftar, maaf masih sangat sangat sangat teramat sungguh sedikit.

Anjo = itu
Anne = ini
Balla' = rumah
Bari'basa = pagi
Bembe' = kambing
Bulu' = bulu/rambut
Bambang = hangatpanas
Battu = datang, tiba
Botto' = berbau
Bungung = sumur
Cidong = duduk
Cini' = lihat
Cipuru' = lapar
Doe'= uang
Iyo'= iya
Jappa = jalan
Jarang = kuda
Karaeng = raja
Kareba = kabar
Lompo= besar
Menteng = berdiri
Mingka = tetapi
Motere = pulang
Nakku' = rindu
Ngandre = makan
Sallo = lama (untuk waktu)
Tabe' = Permisi
Tamparang = laut
Tena = tidak Ada
Tinro = tidur
 source : http://kamus.gudangmateri.com
Selengkapnya(Read More)..

Selasa, 30 Oktober 2012

Tentang Bantaeng (Sejarah, pariwisata, industri, dll )


Kabupaten Bantaeng adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Terletak dibagian selatan provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 395,83 km² atau 39.583 Ha yang dirinci berdasarkan Lahan Sawah mencapai 7.253 Ha (18,32%) dan Lahan Kering mencapai 32.330 Ha. Secara administrasi Kabupaten Bantaeng terdiri atas 8 kecamatan yang terbagi atas 21 kelurahan dan 46 desa. Jumlah penduduk mencapai 170.057 jiwa. [2] Kabupaten Bantaeng terletak di daerah pantai yang memanjang pada bagian barat dan timur sepanjang 21,5 kilometer yang cukup potensial untuk perkembangan perikanan dan rumput laut.
 Lambang Daerah Kabupaten Bantaeng.jpg
 

Kondisi geografis dan kependudukan

Secara geografis Kabupaten Bantaeng terletak pada titik 5o21'23"-5o35'26" lintang selatan dan 119o51'42"-120o5'26" bujur timur. Berjarak 125 Km kearah selatan dari Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayahnya mencapai 395,83 Km2 dengan jumlah penduduk 170.057 jiwa (2006) dengan rincian Laki-laki sebanyak 82.605 jiwa dan perempuan 87.452 jiwa. Terbagi atas 8 kecamatan serta 46 desa dan 21 kelurahan. Pada bagian utara daerah ini terdapat dataran tinggi yang meliputi pegunungan Lompobattang. Sedangkan di bagian selatan membujur dari barat ke timur terdapat dataran rendah yang meliputi pesisir pantai dan persawahan.
Kabupaten Bantaeng yang luasnya mencapai 0,63% dari luas Sulawesi Selatan, masih memiliki potensi alam untuk dikembangkan lebih lanjut. Lahan yang dimilikinya ± 39.583 Ha. Di Kabupaten Bantaeng mempunyai hutan produksi terbatas 1.262 Ha dan hutan lindung 2.773 Ha. Secara keseluruhan luas kawasan hutan menurut fungsinya di kabupaten Bantaeng sebesar 6.222 Ha (2006).
Karena sebagian besar penduduknya petani, maka wajar bila Bantaeng sangat mengandalkan sektor pertanian. Masuk dalam pengembangan Karaeng Lompo, sebab memang jenis tanaman sayur-sayurannya sudah berkembang pesat selama ini. Kentang adalah salah satu tanaman holtikultura yang paling menonjol. Data terakhir menunjukkan bahwa produksi kentang mencapai 4.847 ton (2006). Selain kentang, holtikultura lainnya adalah kool 1.642 ton, wortel 325 ton dan buah-buahan seperti pisang dan mangga. Perkembangan produksi perkebunan, khususnya komoditi utama mengalami peningkatan yang cukup berarti.

Industri dan pariwisata

Sektor industri menjadi pilihan kedua untuk dikembangkan di Kabupaten Bantaeng yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pengembangan sektor industri sangat berpeluang dimasa mendatang, namun membutuhkan investor yang sangat kuat. Dengan perkembangan sektor industri, dampaknya sangat positif, sebab disamping meningkatkan pendapatan masyarakat juga menyerap banyak tenaga kerja. Industri-industri yang berkembang antara lain adalah industri pembersih biji kemiri, pembuatan gula merah, pertenunan godongan, pembuatan perabot rumah tangga dari kayu, anyaman bambu atau daun lontar dan lain-lain.
Sektor lain yang perlu diperhitungkan adalah sektor pariwisata. Kabupaten Bantaeng memiliki peninggalan sejarah yang tercatat dalam buku-buku sejarah. Peninggalan-peninggalan sejarah tersebut sangat menarik untuk dikunjungi. Tak heran memang jika pemerintah kabupaten setempat sangat menaruh perhatian terhadap pariwisata. Terbukti direnovasinya berbagai objek wisata alam menjadi tempat menarik, sepeti permandian alam Bissappu. Juga dipeliharanya peningalan-peninggalan sejarah seperti Balla Tujua yang merupakan kebanggaan masyarakat setempat.
Kabupaten Bantaeng terus berpacu dengan daerah lainnya dengan mengembangkan penataan kota melaui pembuatan taman, drainase, lampu jalan dan lain-lain.

Sejarah yang terlupakan

Komunitas Onto memiliki sejarah tersendiri yang menjadi cikal bakal Bantaeng. Menurut Karaeng Imran Masualle salah satu generasi penerus dari kerajaan Bantaeng, dulunya daerah Bantaeng ini masih berupa lautan. Hanya beberapa tempat tertentu saja yang berupa daratan yaitu daerah Onto dan beberapa daerah di sekitarnya yaitu Sinoa, Bisampole, Gantarang keke, Mamapang, Katapang dan Lawi-Lawi. Masing-masing daerah ini memiliki pemimpin sendiri-sendiri yang disebut dengan Kare’. Suatu ketika para Kare yang semuanya ada tujuh orang tersebut, bermufakat untuk mengangkat satu orang yang akan memimpin mereka semua.
Sebelum itu mereka sepakat untuk melakukan pertapaan lebih dulu, untuk meminta petunjuk kepada Dewata (Yang Maha Kuasa) siapa kira-kira yang tepat menjadi pemimpin mereka. Lokasi pertapaan yang dipilih adalah daerah Onto. Ketujuh Kare itu kemudian bersamadi di tempat itu. Tempat-tempat samadi itu sekarang disimbolkan dengan Balla Tujua (tujuh rumah kecil yang beratap, berdidinding dan bertiang bambu). Pada saat mereka bersemadi, turunlah cahaya ke Kare Bisampole (Pimpinan daerah Bisampole) dan terdengar suara :”Apangaseng antu Nuboya Nakadinging-dinginganna” (Apa yang engkau cari dalam cuaca dingin seperti ini). Lalu Kare Bisampole menjelaskan maksud kedatangannya untuk mencari orang yang tepat memimpin mereka semua, agar tidak lagi terpisah-pisah seperti sekarang ini. Lalu kembali terdengar suara: “Ammuko mangemako rimamampang ribuangayya Risalu Cinranayya (Besok datanglah kesatu tempat permandian yang terbuat dari bamboo).
Keesokan harinya mereka mencari tempat yang dimaksud di daerah Onto. Di tempat itu mereka menemukan seorang laki-laki sedang mandi. “Inilah kemudian yang disebut dengan To Manurunga ri Onto,” jelas Karaeng Burhanuddin salah seorang dari generasi kerajaan Bantaeng. Lalu ketujuh Kare menyampaikan tujuannya untuk mencari pemimpin, sekaligus meminta Tomanurung untuk memimpin mereka. Tomanurung menyatakan kesediaannya, tapi dengan syarat. “Eroja nuangka anjari Karaeng, tapi nakkepa anging kau leko kayu, nakke je’ne massolong ikau sampara mamanyu” (saya mau diangkat menjadi raja pemimpin kalian tapi saya ibarat angin dan kalian adalah ibarat daun, saya air yang mengalir dan kalian adalah kayu yang hanyut),” kata Tomanurung.
Ketujuh Kare yang diwakili oleh Kare Bisampole pun menyahut; “Kutarimai Pakpalanu tapi kualleko pammajiki tangkualleko pakkodii, Kualleko tambara tangkualleko racung.” (Saya terima permintaanmu tapi kau hanya kuangkat jadi raja untuk mendatangkan kebaikan dan bukan untuk keburukan, juga engkau kuangkat jadi raja untuk jadi obat dan bukannya racun). Maka jadilah Tomanurung ri Onto ini sebagai raja bagi mereka semua. Pada saat ia memandang ke segala penjuru maka daerah yang tadinya laut berubah menjadi daratan. Tomanurung ini sendiri lalu mengawini gadis Onto yang dijuluki Dampang Onto (Gadis jelitanya Onto)
Setelah itu mereka pun berangkat ke arah yang sekarang disebut gamacayya. Di satu tempat mereka bernaung di bawah pohon lalu bertanyalah Tomanurung pohon apa ini, dijawab oleh Kare Bisampole: Pohon Taeng sambil memandang kearah enam kare yang lain. Serentak kenam kare yang lain menyatakan Ba’ (tanda membenarkan dalam bahasa setempat). Dari sinilah kemudian muncul kata Bantaeng dari dua kata tadi yaitu Ba’ dan Taeng jelas Karaeng Imran Masualle.
Konon karena daerah Onto ini menjadi daerah sakral dan perlindungan bagi keturunan raja Bnataeng bila mendapat masaalah yang besar, maka bagi anak keturunan kerajaan tidak boleh sembarangan memasuki daerah ini, kecuali diserang musuh atau dipakaikan dulu tanduk dari emas. Namun kini hal itu hanya cerita. Karena menurut Karaeng Burhanuddin semua itu telah berubah akibat kebijakan Pemda yang telah melakukan tata ruang terhadap daerah ini. Kini Kesakralan daerah itu hanya tinggal kenangan.
Tanggal 7 (tujuh) menunjukkan simbol Balla Tujua di Onto dan Tau Tujua yang memerintah dimasa lalu, yaitu: Kare Onto, Bissampole, Sinowa, Gantarangkeke, Mamampang, Mamampang, Katapang dan Lawi-Lawi.
Selain itu, sejarah menunjukkan, bahwa pada tanggal 7 Juli 1667 terjadi perang Makassar, dimana tentara Belanda mendarat lebih dahulu di Bantaeng sebelum menyerang Gowa karena letaknya yang strategis sebagai bandar pelabuhan dan lumbung pasngan Kerajaan Gowa. Serangan Belanda tersebut gagal, karena ternyata dengan semangat patriotiseme rakyat Bantaeng sebagai bagian Kerajaan Gowa pada waktu itu mengadakan perlawanan besar-besaran.
Bulan 12 (dua belas), menunjukkan sistem Hadat 12 atau semacam DPRD sekarang yang terdiri dari perwakilan rakyat melalui Unsur Jannang (Kepala Kampung) sebagai anggotanya yang secara demokratis mennetapkan kebijaksanaan pemerintahan bersama Karaeng Bantaeng.
Tahun 1254 dalam atlas sejarah Dr. Muhammad Yamin, telah dinyatakan wilayah Bantaeng sudah ada, ketika kerajaan Singosari dibawah pemerintahan Raja Kertanegara memperluas wilayahnya ke daerah timur Nusantara untuk menjalin hubungan niaga pada tahun 1254-1292. Penentuan autentik Peta Singosari ini jelas membuktikan Bantaeng sudah ada dan eksis ketika itu.
Bahkan menurut Prof. Nurudin Syahadat, Bantaeng sudah ada sejak tahun 500 masehi, sehingga dijuluki Butta Toa atau Tanah Tuo (Tanah bersejarah).
Selanjutnya laporan peneliti Amerika Serikat Wayne A. Bougas menyatakan Bantayan adalah Kerajaan Makassar awal tahun 1200-1600, dibuktikan dengan ditemukannya penelitian arkeolog dan para penggali keramik pada bagian penting wilayah Bantaeng yakni berasal dari dinasti Sung (960-1279) dan dari dinasti Yuan (1279-1368).
Dengan demikian, maka sesuai kesepakatan yang telah dicapai oleh para pakar sejarah, sesepuh dan tokoh masyarakat Bantaeng pada tanggal 2-4 Juli 1999. berdasarkan Keputusan Mubes KKB nomor 12/Mubes KKB/VII/1999 tanggal 4 Juli 1999 tentang penetapan Hari Jadi Bantaeng maupun kesepatan anggota DPRD Tingkat II Bantaeng, telah memutuskan bahwa sangat tepat Hari Jadi Bantaeng ditetapkan pada tanggal 7 bulan 12 tahun 1254, sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor: 28 tahun 1999.

Daftar nama-nama raja yang pernah memerintah

Berikut ini adalah daftar nama-nama raja yang pernah memerintah di wilayah Kabupaten Bantaeng, yaitu:
  1. Bantayan pada awalnya sebagai Kerajaan yakni tahun 1254 - 1293 yang mana diperintah oleh Mula Tau yang bergelar To Toa 
     yang memimpin Kerajaan Bantaeng yang terdiri dari 7 Kawasan yang masing diantaranya dipimpin oleh Karaeng, 
     yaitu Kare Onto, Kare Bissampole, Kare Sinoa, Kare Gantarang Keke, Kare Mamampang, Kare Katampang dan Kare Lawi-Lawi, 
     yang semua Kare tersebut dikenal dengan nama “Tau Tujua”
  2. Sesudah Mula Tau, maka Raja kedua yang memerintah yaitu Raja Massaniaga pada tahun 1293.
  3. Pada tahun 1293 - 1332 dipimpin oleh To Manurung atau yang bergelar Karaeng Loeya.
  4. Tahun 1332 - 1362 dipimpin oleh Massaniaga Maratung.
  5. Tahun 1368 - 1397 dipimpin oleh Maradiya.
  6. Tahun 1397 - 1425 dipimpin oleh Massanigaya.
  7. Tahun 1425 - 1453 dipimpin oleh I Janggong yang bergelar Karaeng Loeya.
  8. Tahun 1453 - 1482 dipimpin oleh Massaniga Karaeng Bangsa Niaga.
  9. Tahun 1482 - 1509 dipimpin oleh Daengta Karaeng Putu Dala atau disebut Punta Dolangang.
 10. Tahun 1509 - 1532 dipimpin oleh Daengta Karaeng Pueya.
 11. Tahun 1532 - 1560 dipimpin oleh Daengta Karaeng Dewata.
 12. Tahun 1560 - 1576 dipimpin oleh I Buce Karaeng Bondeng Tuni Tambanga.
 13. Tahun 1576 - 1590 dipimpin oleh I Marawang Karaeng Barrang Tumaparisika Bokona.
 14. Tahun 1590 - 1620 dipimpin oleh Massakirang Daeng Mamangung Karaeng Majjombea Matinroa ri Jalanjang Latenri Rua.
 15. Tahun 1620 - 1652 dipimpin oleh Daengta Karaeng Bonang yang bergelar Karaeng Loeya.
 16. Tahun 1652 - 1670 dipimpin oleh Daengta Karaeng Baso To Ilanga ri Tamallangnge.
 17. Tahun 1670 - 1672 dipimpin oleh Mangkawani Daeng Talele.
 18. Tahun 1672 - 1687 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Baso (kedua kalinya).
 19. Tahun 1687 - 1724 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Ngalle.
 20. Tahun 1724 - 1756 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Manangkasi.
 21. Tahun 1756 - 1787 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Loka.
 22. Tahun 1787 - 1825 dipimpin oleh Ibagala Daeng Mangnguluang Tunijalloka ri Kajang.
 23. Tahun 1825 - 1826 dipimpin oleh La Tjalleng To Mangnguliling Karaeng Tallu Dongkonga ri Bantaeng 
     yang bergelar Karaeng Loeya ri Lembang.
 24. Tahun 1826 - 1830 dipimpin oleh Daeng To Nace (Janda Permaisuri, Kr. Bagala Dg. Mangnguluang Tunijalloka ri Kajang).
 25. Tahun 1830 - 1850 dipimpin oleh Mappaumba Daeng To Magassing.
 26. Tahun 1850 - 1860 dipimpin oleh Daeng To Pasaurang.
 27. Tahun 1860 - 1866 dipimpin oleh Karaeng Basunu.
 28. Tahun 1866 - 1877 dipimpin oleh Karaeng Butung.
 29. Tahun 1877 - 1913 dipimpin oleh Karaeng Panawang.
 30. Tahun 1913 - 1933 dipimpin oleh Karaeng Pawiloi.
 31. Tahun 1933 - 1939 dipimpin oleh Karaeng Mangkala
 32. Tahun 1939 - 1945 dipimpin oleh Karaeng Andi Mannapiang
 33. Tahun 1945 - 1950 dipimpin oleh Karaeng Pawiloi (kedua kalinya).
 34. Tahun 1950 - 1952 dipimpin oleh Karaeng Andi Mannapiang (kedua kalinya).
 35. Tahun 1952 - Karaeng Massoelle (sebagai pelaksana tugas).

Daftar Kepala Pemerintahan

Sejak terbentuknya Kabupaten daerah Tingkat II Bantaeng berdasarkasn UU Nomor 29 Tahun 1959, Bupati Kepala Daerah Tingkat II yang pertama dilantik pada tanggal 1 Pebruari 1960. Adapun pejabat pemerintahan sejak terbentuknya Kabupaten Bantaeng hingga saat ini adalah sebagai berikut:
  1. A. Rifai Bulu (1960-1965)
  2. Aru Saleh (1965-1966)
  3. Solthan (1966-1971)
  4. H. Solthan (1971-1978)
  5. Drs. H. Darwis Wahab (1978-1988)
  6. Drs. H. Malingkai Maknun (1988-1993)
  7. Drs. H. Said Saggaf (1993-1998)
  8. Drs. H. Azikin Solthan, M.Si (1998-2008)
  9. Dr. Ir. Nurdin Abdullah, M.Agr (2008-sekarang)

Kabupaten Bantaeng
Lambang Daerah Kabupaten Bantaeng.jpg
Lambang Kabupaten Bantaeng

Peta lokasi Kabupaten Bantaeng
Koordinat: 20 21' 18' Lintang Utara dan 134' 8' Bujur Timur
Provinsi Sulawesi Selatan
Dasar hukum Ketetapan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah Nomor: Des 52/2/18-104, Tanggal 4 September 1963
Pemerintahan
 - Bupati Prof. DR. Ir. H.M. Nurdin Abdullah, M.Agr.
 - DAU Rp. 263.320.424.000,-(2011)[1]
Luas 395,83 km2
Populasi
 - Total 170.057 jiwa
 - Kepadatan 429,62 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0413
Pembagian administratif
 - Kecamatan 8
 - Kelurahan 46 / 21
 - Situs web http://www.bantaeng.go.id/

 

Referensi

  1. ^ "Perpres No. 6 Tahun 2011". 17 Februari 2011. Diakses pada 23 Mei 2011.
  2. ^ Sumber: Data BPS Kabupaten Bantaeng tahun 2008
 Sumber : wikipedia Indonesia
Selengkapnya(Read More)..

Kamis, 25 Oktober 2012

GO GREEN BANTAENG YUUKKK !!


Secara universal tidak semua daerah di bumi ini yang cuacanya panas, yang daerahnya dingin sih enak aja, yang berada di daerah tropis kayak Indonesia khususnya Bantaeng kita saat ini lagi panasss banget, inilah dampak dari pemanasan global karena 99% adalah ulah manusia sendiri. Walaupun tidak semua daerah di bumi ini panas akan tetapi dampaknya mencakup seluruh bumi. Pasti anda tidak mau terus-terusan begini kan ?? di saat musim kemarau wow panasnya minta ampun. teringat waktu saya masih kecil dulu panasnya cuaca tidak sepanas sekarang ini. Makanya ayo kita Go green yukk !!
http://nbcgeonair.blogspot.com
Upaya Go Green yakni menanam pohon, kalau bisa sebanyak-banyaknya. STOP penembangan hutan secara tidak bertanggung jawab baik yang ilegal maupun yang legal karena sekarang banyak yang legal juga tapi tidak bertanggung jawab (tidak melakukan reboisasi kembali atau apalah istilahnya).

Selain Go Green, bisa dengan  melakukan :
  • penghematana listrik
  • kurangi bentuk efek rumah kaca dan umpan baliknya
  • berkendaraan sehat yakni lakukanlah se sering mungkin berkendaraan yang sehat (Sepeda dan semaacamnya) yang tidak mengeluarkan emisi bahan bakar.
  • Melakukan sosialisasi yang berhubungan dengan hal ini dari rumah ke rumah, tetangga ke tetangga, dari sahabat/teman ke sahabat/teman, dari pacar ke pacar yang lain hehehehe...
  • Dan lain-lain
 By. Nbc Radio Bantaeng
Selengkapnya(Read More)..

Sabtu, 20 Oktober 2012

Sejarah NBC (Enbizi) Radio Bantaeng


NBC FM berasal dari nbc band makassar yang base campnya di Jl. Tarakan kota makassar, alkisah sang gitaris si Tony ke Bantaeng pada tahun 2003, pada waktu itu lagi ada bazar music di salah satu cafe di Bantaeng dan memakai nama Nbc Band. Nah disitu Tony bersama sahabat di bantaeng pengen manggung, ternyata mereka spektakuler mainnya padahal mereka ga latihan, jadinya mereka kompak untuk ikut festival music Bantaeng & ternyata Nbc Band pun terkenal se antero Bantaeng walaupun Nbc Band tidak pernah dapat juara. Dari situ mereka kompak banget sehingga mengikuti beberapa bazar,pentas bahkan Festival Music di berbagai kota di sulawesi, alhasil walaupun mereka ga pernah juara tapi banyak fans yang suka pada Nbc Band, Untuk lebih memantapkan Nbc band akhirnya mereka sepakat mempunyai cabang Nbc band yakni Bloon Band yang termasuk dalam manajemen Nbc Crew. Nah dari situ mereka banyak mempunyai personil band maupun seksi lainnya seperti cadangan pemain band, selain itu crew mereka ada beberapa penyiar dari lepasan berbagai radio dari Bantaeng, Sinjai dan Makassar, dari situlah mereka berobsesi mendirikan station radio (2005) yang pada masa itu lagi nge-trendnya radio di Bantaeng dilihat dari lahirnya beberapa radio komunitas anak muda di Bantaeng. Studio Nbc yang pertama kali bertempat di jl.Monginsidi (base camp takeshi castle). Sesudah itu pindah ke Jl. Bete-Bete 1 No. 5 Bantaeng (2006). Nbc Fm pada awalnya bernama (Bantaeng on sky) B on Sky fm, akan tetapi setelah pemantapan alat stasiun radio diganti dengan Nbc karena adanya unsur politik di dalam Nbc crew, yaitu Nbc crew tidak boleh memakai nama lain selain Nbc walaupun pada waktu itu lagi ada perang dingin antar 2 blok/kubu di dalam Nbc crew, yaitu kubu Nbc band dan Brooadcaster Nbc. Tahun 2008, NBC tidak mau ketinggalan, segera memantapkan radio streaming, hasilnya Nbc radio internet pun tercipta. Pada tahun 2010 Nbc fm pun bergabung dalam Jirak Celebes sebagai salah satu Radkom Di Sul-Sel.

GENK/ORANG YANG IKUT ANDIL DALAM PENDIRIAN NBC RADIO
TERCAPAINYA NBC CREW MEMILIKI RADIO, tidak lepas dari beberapa orang/genk yang turut andil membantu Nbc Crew pada masa itu (2005) baik turut andil dengan bantuan moril maupun materi , kami sebut ya agar anak muda yang akan datang dan juga orang/genk yang membaca sejarah Nbc ini turut bangga & tahu sejarahnya yang pasti beberapa tahun kedepan akan menjdai suatu bahan bacaan yang cukup bernilai bagi kalangan anak muda di masa pendirian maupun di masa-masa selanjutnya...!!
Pendirian Nbc dibantu (Moril ataupun materi)oleh beberapa Genk/orang dimasa itu (2005) , so thanks buat GEnk Gamish papers, Genk Travesty, Genk SPB (Skater Punk Belenk), Genk Noisy, the Godnesh Band, Skill fm di jalan Kenanga (for Randy dkk thanks), Genk Modiest Imoet, Genk Chaldenist, Thanks banged buat MASTER FM - The Coolest station in town di Jl. Ahmad Yani (Kak Dev dkk Thanks), Pengusaha-pengusaha CV pada masa itu yang sudah banyak menyumbangkan hasil proyeknya, pacar-pacar Nbc pada masa itu tanpa terkecuali.

Read more: http://nbcradio.webnode.com/history/
Create your own website for free: http://www.webnode.com
Selengkapnya(Read More)..

Senin, 15 Oktober 2012

FOTO JADUL SAMPAI SEKARANGNA BANTAENG, SUL-SEL


ada yang tahu ini dimana ?

 Foto diatas dijalan mana ya ??
Ini juga salah satu jalan di Bantaeng, ada yang tahu ini dimana ?
ini juga ?
ini juga
kalau ini peta bantaeng zaman dulu
Ini juga dimana ?
Kalau tidak salah ini Rutan yang di seruni, betul ga ?
ini jalan apa ya ??
Kalau tidak salah ini rumah di jl.Raya lanto yang dekat lampu merah merpati raya lanto,
hm...nenek-nenekta semua hehehehe
siapa ini ?
dimana dimana dimanaaaa ??? hehehe kayak ayu ting ting, siapakah beliau ??

wah...kakek nenekta semua
Menurut sumber foto (http://shernyliaatte.blogspot.com/2012/11/v-behaviorurldefaultvmlo_9825.html), mungkin foto di bawah ini adalah KODIM, betul nggak ?? dimana dulunya KODIM merupakan bekas Kantor Residen Kepala Afdeeling Bonthain
Ir. Soekarno di Bantaeng (Sumber : http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1237459&page=36)

Balla Lompoa di Letta tahun 2003 (sumber : lupa hehehe)

Makam Raja mungkin ini di' ?? yang di Pemuda..benar tidak ??
 Kalo yang ini pantai marina !!

kalo yang ini pantai seruni

Silahkan komentarta' saribattang...kimohon ki isi kalo ditauki keterangan foto-foto diataska !!
FOTO DIATAS DARI BERBAGAI SUMBER, ADA YANG MAU TAMBAHKI ?? SILAHKAN KASI LINKNYA LEWAT KOMENTAR DI BAWA', BOLEH KOMENTAR LEWAT BLOG MAUPUN FACEBOOK YANG TERSEDIA DIBAWA' INI, HAL INI MEMBANTU PEMERINTAH UNTUK MENG ARSIPKAN FOTO BANTAENG, BIAR FOTO HARI INI JUGA BOLEH KI KASI LINKNYA BIAR SAYA (ADMIN/PENULIS) YANG KASI MASUKI DISINI, FOTO HARI INI JUGA AKAN JADI FOTO JADUL UNTUK MASA DEPAN TOOO HEHEHE, OKEMI SARIBATTANG ?? OKE DEH

EITS, KIRIM FOTONYA JUGA BOLEH LEWAT FB (nbcradio bantaeng)
Selengkapnya(Read More)..

Kamis, 11 Oktober 2012

DUNIA RADIO DI KALANGAN ANAK MUDA BANTAENG SEDANG MATI


 ditulis oleh Vid Enbizi

Tidak dapat dipungkiri, dunia radio di kalangan anak muda Bantaeng sejak tahun 2007 sampai saat ini (ditulis 2012) sedang mati atau sedang menurun bahkan dapat di katakan mati suri. Tidak adanya generasi pelanjut menjadikan radio bukan lagi barang wajib untuk di kelola oleh anak muda sehingga dapat dikatakan berkurangnya tingkat kreativitas dan inovasi anak muda di Bidang Broadcaster Radio.
http://nbcgeonair.blogspot.com
Mungkinkah tahun-tahun depan akan seperti era dulu ? dimana anak muda menuangkan idenya dan kreativitasnya di dunia radio Stasiun ? yang di kenal oleh anak muda Bantaeng dengan sebutan radio liar.

Walaupun radio liar merupakan radio yang ilegal menurut hukum, akan tetapi tidak dapat dipungkiri manfaatnya ada juga, yakni :
  • sebagai wadah kreativitas & pengembangan inovasi serta hoby di bidang broadcaster/announcer/media
  • Sebagai alat/tempat komunikasi informasi di kalangan anak muda
  • Sebagai penilaian tingkat ide/keterampilan
  • Sebagai bagian pengukuhan jati diri
  • Sebagai tempat silaturahmi, mencari teman
  • Sebagai hiburan anak muda agar tidak Galau hehehe
  • Sebagai tolak ukur ketidak monotonan aktivitas anak muda
  • DLL
Nah, seandainya dunia radio di kalangan anak muda Bantaeng semakin meningkat, pastinya radio - radio yang bermunculan ataupun yang sudah ada di kembangkan otomatis tidak jalan ditempat karena semakin hari semakin berpengalaman kreativitasnya pastinya..sehingga saya dapat memastikan yang dulunya radio liar mungkin saat sekarang pasti ada yang sudah menjadi radio komunitas legal, atau bahkan ada yang sudah jadi radio swasta...wahhh pengennya kayak gitu hehehe

Selengkapnya(Read More)..

Rabu, 05 September 2012

BEBERAPA FOTO STUDIO RADIO DI BANTAENG


Nah, ini artikel ini nih yang ditunggu-tunggu sama penyiar di salah satu radio di bantaeng hehehehe...hm mas Dh*CA ...!! ini ada beberapa foto-foto radio di bantaeng yang saya ambil dari berbagai sumber ...!! Artikel ini hanya untuk kenangan-kenangan saja tuk masa depan "Kisah klasik untuk masa depan kata Sheila on 7 "  hehehehe:: gambar-gambar ini juga dimaksudkan sebagai foto kenang-kenangan untuk generasi pelanjut di dunia radio di Bantaeng untuk kelak di masa depan...yuuuukkkk intip foto-fotonya :









Untuk sementara hanya foto radio diatas yang saya dapatkan,  bagi radio yang tidak ada foto-fotonya dan ingin di abadikan juga di artikel ini...silahkan hubungi saya di nbcradiobantaeng@gmail.com atau fb & twitter yang tercantum di blog ini atau di http://nbcradiobantaeng.co.nr or http://nbcradio.webnode.com (last Update 5 Mei 2013)



key words : foto-foto jadul radio fm bantaeng, sejarah radio di bantaeng, foto abadikan radio di bantaeng Sulawesi-selatan, foto studio radio bantaeng.
Selengkapnya(Read More)..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Twitter fb share