Jumat, 15 Februari 2013

Radio Automation, Pilihan Mutlak Era Digital ?

Beberapa tahun silam, Anda mungkin dengan mudah menjumpai penyiar di sebuah stasiun radio memancarsiarkan program-programnya dengan menggunakan script kecil berupa catatan di atas kertas atau hasil print dipadukan dengan pemutar audio berupa pemutar CD dan tape recorder/player. Kini, pemandangan tersebut lebih jarang. Stasiun-stasiun radio, khususnya yang berada di frekuensi FM perlahan, tapi pasti beralih menggunakan sistem pancar siar yang lebih terpadu dengan menggunakan 
perangkat lunak yang memungkinkan radio tersebut untuk mereproduksi musik dan suara dari harddisk komputer daripada menggunakan pemutar CD dan tape recorder. Stasiun radio tersebut pun menyimpan semua materi iklan, jingle, efek suara, dan sebagian besar musik di hard disk. Kemudian, memutar ulang secara instan semua materi melalui keyboard atau dengan mengklik mouse dan PC atau komputer pun menjelma menjadi bagian "wajib" dari setiap penyiaran AM & FM, webcasting atau sistem Podcasting di seluruh dunia. Dalam perkembangannya, peranti lunak atau software radio ini tidak hanya mereproduksi audio. Tetapi juga, memungkinkan membuat "playlist" yang dapat mereproduksi secara otomatis, tanpa operator, sebuah program radio yang lengkap, termasuk mengumumkan meteorologi atau cuara, jingle, iklan, lagu musik, koneksi jaringan satelit, dan lain lain, sehingga siaran selama 24 jam bagi sebuah stasiun radio di sebuah kota kecil tanpa operator atau penyiar bisa dilakukan. Sistem kerja yang dilakukan peranti lunak tersebut disebut radio automation.
Teknologi ini diklaim diciptakan pertama kali di Buenos Aires oleh Oscar Bonello pada tahun 1989. Perangkat lunak radio pertama untuk otomatisasi, menggunakan kompresi audio digital lossy codec, bernama Audicom dan diperkenalkan secara internasional pada 1990 pada ajang Konvensi Asosiasi Penyiaran Nasional di Atlanta, Amerika Serikat. Stasiun radio pertama di dunia yang menggunakannya adalah salah satu radio di San Francisco, California. Dasar dari Audicom adalah aplikasi pertama, ditargetkan pada otomatisasi radio, teknologi kompresi audio yang digunakan sedikit untuk mengurangi jumlah data. Kini, dunia radio tak hanya mengenal Audicom, tapi banyak nama peranti lunak lain yang tumbuh kembang menyusul perkembangan teknologi, khususnya  teknologi kompresi bit MP3 dan kartu audio standar, sehingga semakin banyak pilihan perangkat lunak otomatisasi di pasar. Beberapa sistem sudah termasuk fitur berupa fasilitas administrasi untuk departemen lalu lintas, jadwal Disc Jockey, "jendela" Live Assist, hingga kontrol otomatisasi Artificial Intelligence.
Secara lebih rinci, Taqwa Basalama, Business Development Manager & Creative Head PT Radionet Cipta Karya (Grup Masima yang menaungi radio Prambors, Delta) menyebutkan bahwasanya radio automation adalah suatu paket sistem Informasi Teknologi (IT) yang memungkinkan tim radio menjalankan proses kerja radio secara optimal, termasuk di dalamnya sistem player (di ruang siaran, digunakan oleh operator siaran atau penyiar), traffic/ad scheduller (pengelolaan iklan, digunakan oleh traffic staff), program scheduller (untuk perencanaan program siaran, biasa digunakan oleh program director), music scheduller (bagi radio musik, digunakan oleh music director), news scheduller (bagi radio berita, digunakan oleh news editor), dan beberapa opsi aplikasi lainnya terkait interaksi dengan pendengar seperti sistem pengelolaan telepon, SMS, social media (FB/Twitter/lainnya), website, dan lain lain.  Kehadiran radio otomatisasi ini, tentunya diharapkan bisa memberi manfaat optimal bagi pengguna atau "stakeholder" penyiaran radio. Misalnya, Bagi pemilik, penggunaan radio automation yang baik akan meningkatkan brand equity dari radionya.  Bagi para pengelola radio, mereka dapat lebih efisien dan efektif dalam mengelola operasional radionya, dari mulai membuat perencanaan siaran, proses kontrol dan pelaksanaan siaran, pelaporan, sampai dengan analisa. Bagi klien pemasang iklan, penggunaan radio automation pada radio menjadi salah satu faktor utama dalam penentuan channel radio, iklan yang dijadwalkan akan lebih tepat waktu penayangannya, dan bukti siar yang dihasilkan dari radio automation tentunya meningkatkan tingkat kepercayaan para pengiklan. Sementara itu, bagi pendengar, manfaat tidak langsung dapat dirasakan dalam menikmati siaran radio tersebut, seperti aspek “kesegeraan” dalam pencarian materi request, penggunaan berbagai sound effect atau back sound yang menarik, sampai kualitas audio yang tidak pernah menurun karena penggunaan radio automation juga mensyaratkan penggunaan format audio digital dalam playernya.

Perkembangan dan Pertimbangan Radio Automation
Saat ini sudah cukup banyak brand baik mancanegara maupun lokal yang menawarkan sistem radio automation, baik yang terintegrasi maupun yang partial sesuai fungsi yang diperlukan.  Menurut Taqwa Basalama, beberapa produsen mancanegara bahkan sudah membuat integrasi dengan hardware (mixer, monitor siaran, dll). Tak heran, bila Peranti lunak asal  mancanegara sudah lebih dulu menawarkan bahkan berhasil menjual kepada radio-radio kelas atas ataupun radio berjejaring (networking radio),
diantaranya adalah produk dari RCS (www.rcsindonesia.com), BSI (www.bsiusa.com), Jazler (www.jazler.com), dll. Merk lokal sendiri terlihat masih bermain di radio kelas menengah ke bawah meskipun kalau dilihat dari penetrasinya cukup signifikan. Salah satu brand lokal yang aktif melakukan penetrasi saat ini adalah radio 2.0 dari Zamrud  Technology dan e-broadcasting Institute yang memadukan teknologinya dengan audio streaming (www.suararadio.com). Merk-merk peranti lunak ini dipilih pengguna biasanya berdasarkan fitur yang dimiliki selain harga. Fitur yang biasanya dijadikan aspek pertimbangan bagi pengguna atau calon pengguna dalam pemilihan radio automation, menurut Taqwa Basalama, antara lain:
1. Pemenuhan semua fungsi utama (perencanaan, pelaksanaan, kontrol, report, dan analisa)
2. Integrasi sistem
   a.Di dalam Radio Automation, baik penggunaan satu brand untuk sistem yang terintegrasi atau  
menggunakan beberapa brand yang open system
   b.Kepada sistem di luar Radio Automation. Misalnya, interkoneksi laporan siar/invoice terhadap software keuangan.
3. User friendly, dalam arti kemudahan bagi para user, kadang tampilan yang mewah dan menarik
    belum tentu memudahkan user. Sebaliknya, tampilan yang sederhana bisa  jadi dapat memenuhi seluruh kebutuhan sistem operasi radio.
4. Fleksibilitas dan dukungan teknis, adanya kemudahan modifikasi jika terjadi perubahan dalam proses kerja radio, apakah bisa dilakukan oleh tim internal, oleh  developer, atau oleh jasa teknis outsource.
5. Terakhir, tentu saja biaya, baik biaya setup maupun biaya bulanan, karena sebagus apapun sistem yang ditawarkan komponen biaya harus dihitung dengan tepat sehingga  dapat dipilih aplikasi yang paling optimal dan efisien sesuai dengan kondisi dan kebutuhan dari radio tersebut.
Bagikan ke :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Twitter fb share